Tinggalkan komentar

contoh kasus perkawinan dan waris islam

Contoh I :

Kasus Waris (Faraidh)

Kedudukan Anak Angkat Dalam Faraidh Dan Ketentuan Mengenai Ahli Waris Yang Membunuh Pewaris

Pada tahun 2009, seorang laki-laki meninggal dunia karena ditusuk oleh salah satu anak laki-lakinya sendiri. Ia meninggalkan tiga orang anak laki-laki kandung, seorang anak perempuan kandung, seorang anak laki-laki angkat, seorang ibu, seorang nenek, dan saudara laki-laki sekandung. Ketika laki-laki itu meninggal, ia meninggalkan harta sebesar Rp. 700.000.000,-. Ternyata sebelum ia meninggal, ia pernah menyatakan bahwa ia mewasiatkan 1/7 hartanya kepada anak angkatnya.

Bagaimanakah penyelesaian kasusnya?

Dalam hal ini yang menjadi ahli waris adalah :

  1. 1.      ibu
  2. 2.      Dua anak laki-laki      
  3. 3.      Seorang orang anak perempuan         

Satu orang anak laki-laki tidak bisa menjadi ahli waris ayahnya karena ia telah terbukti membunuh ayahnya sendiri. Hal ini diatur dalam Bab II pasal 173 sub a KHI, “Seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para pewaris”. Selain itu, Rasulullah SAW. Bersabda : “Barang siapa membunuh seorang korban, maka ia tidak dapat mewarisinya, walaupun korban tidak mempunyai ahli waris selain dirinya, walaupun korban itu bapaknya maupun anaknya. Maka pembunuh tidak berhak mewarisi” (H.R. Ahmad).

Anak angkat tidak mendapatkan bagian waris karena dalam islam ada ketentuan bahwa anak angkat bukan merupakan bagian dari ahli waris. Sebagaimana disebutkan dalam al-qur’an surat al-Ahzab ayat 4 :

……………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………..

Tidaklah Allah menjadikan pada seseorang dua hati dalam rongga­nya dan tidaklah isteri-isteri kamu yang telah kamu serupakan punggungnya dari kalangan mereka menjadi ibumu dan tidaklab Dia menjadikan anak yang kamu angkat jadi anakmu benar-benar Itu hanyalah ucapanmu dengan mulutmu. Dan Allah mengatakan yang benar dan Dia akan menunjuki jalan”.

Nenek tidak menjadi ahli waris karena ia terhijab/terhalang oleh ibu.

Saudara laki-laki kandung tidak menjadi ahli waris karena terhijab/terhalang oleh anak laki-laki kandung.

Bagaimanakah proses pembagian harta benda warisannya?

Pertama, harus dipenuhi dulu wasiat sipewaris, sebagaimana diatur dalam Al-Quran Surat Annisa Ayat 11 dan diatur dalam Bab V Tentang Wasiat Dari Pasal 175 ayat (1) sub c, “Kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah menyelesaikan wasiat pewaris.” Dalam hal ini wasiat kepada anak angkat, wasiatnya sah karena tidak melebihi dari 1/3 dari seluruh harta dan tidak diberikan kepada ahli waris, sebagaimana diatur dalam Bab V pasal 195 ayat (2) KHI, “ Wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris menyetujui.”

Dalam kasus waris ini, ibu mendapat bagian 1/6 dari harta yang ditinggalkan karena pewaris/yang meninggal meninggalkan keturunan, diatur dalam pasal 178 ayat (1) KHI, “Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih…”dan diatur dalam al-qur’an Surat An Nisa Ayat 11. Dua anak laki-laki mendapat bagian ‘asobah binnafsi, dan satu anak perempuan mendapatkan bagian ‘asobah bil ghoir karena ada anak laki-laki.

Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut :

Harta peninggalan                                                                                           Rp.700.000.000,00-

Wasiat                                                 1/7 x Rp.700.000.000,00 =     Rp.100.000.000,00

Rp.600.000.000,00-

Ibu                                                       1/6 x Rp.600.000.000,00 =      Rp.100.000.000,00

Rp.500.000.000,00-

*Dua anak (laki-laki)                           ‘asobah binnafsi                          Rp.400.000.000,00

@ Rp.200.000.000,00

Satu anak (perempuan)                       ‘asobah bil ghair                        Rp.100.000.000,00

Rp.0,00

Ket. : *bagian anak laki-laki sama dengan dua bagian anak perempuan, sebagaimana diatur dalam Al Quran Surat An-Nisa Ayat 11. “Allah mensyari’atkan kepadamu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan”. Jadi apabila dilihat dari contoh diatas, bagian 3 orang anak itu seolah-olah bagian untuk 5 orang anak, karena 2 anak laki-laki menjadi 4 bagian ditambah satu bagian anak perempuan.

Contoh II :

Wali Nikah Yang Tidak Mau Menikahkan Anaknya

Marinem seorang perempuan yang masih berstatus lajang mempunyai hubungan khusus dengan seorang laki-laki bernama satrio. Mereka berdua saling mencintai, namun hubungan mereka tidak disetujui oleh kedua orang tua marinem, terutama ayahnya sebagai wali marinem.

Namun, marinem tetap bersikukuh untuk menikah dengan satrio. Sampai-sampai Ia mengancam pada orang tuanya bahwa ia akan bunuh diri apabila orang tuanya tetap melarang ia untuk menikah dengan satrio.

Mendengar hal itu, orang tua marinem begitu terkejut, namun ternyata keterkejutannya itu tidak mengubah keyakinan mereka, mereka tetap tidak akan menikahkan marinem dengan satrio.

Kemudian, bagaimanakah solusi yang tepat untuk menyelesaikan perkara  diatas?

Agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan, ayah marinem sebagai wali nikahnya marinem boleh tidak menikahkan marinem dengan satrio dan menyerahkan anaknya itu pada wali hakim meskipun wali nasab masih ada/hidup, dengan syarat ada pernyataan tertulis dari wali nasab bahwa ia menyerahkan pernikahan anaknya itu pada wali hakim. Maka dengan itu marinem bisa melangsungkan pernikahan dengan satrio dengan wali hakim.

Contoh III :

Ahli Waris Yang Pindah Agama

Seseorang mengalami kecelakaan berat yang menyebabkan ia meninggal dunia, namun sebelum ia meninggal ia dilarikan ke rumah sakit terlebih dahulu. Sehingga pada saat ia meninggal, pihak rumah sakit menagih biaya perawatannya selama di rumah sakit. Ia meninggalkan seorang isteri, dua orang anak perempuan, seorang ayah, seorang ibu. Namun, ternyata salah seorang anak perempuannya berpindah agama ke dalam agama Kristen. Bagaimanakah pembagian warisannya?

Dalam hal ini, yang menjadi ahli waris adalah :

  1. Seorang Isteri
  2. Seorang anak perempuan
  3. Seorang ayah
  4. Seorang ibu

Anak perempuan yang satu lagi tidak menjadi ahli waris karena ia berlainan agama dengan pewaris. Rasulullah SAW., bersabda :

 

……………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………..

Isteri mendapat bagian 1/8 dari harta peninggalan karena pewaris meninggalkan keturunan, sebagaimana diatur dalam pasal 180 KHI yaitu “janda mendapat ¼ bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak maka janda mendapat seperdelapan bagian.seorang anak perempuan mendapat bagian ½ dari harta peninggalan, diatur dalam pasal 176 KHI, “Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian ….. ibu mendapat bagian 1/6, diatur dalam pasal 178 KHI, “Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih….” dan ayah mendapat bagian ‘asobah.

Adapun pembagian warisannya adalah sebagai berikut :

Sebelum harta warisan dibagikan kepada ahli waris harus dipenuhi dulu hal-hal yang berkaitan dengan pewaris, dalam kasus ini adalah pembayaran rumas sakit pewaris sebelum ia meninggal dunia, kain kafan, upah menggali kuburan, dan lain-lain. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW., “kafanilah olehmu mayat itu dengan kain ihramnya.”  Selain itu, diatur juga dalam Bab II pasal 175 sub KHI, “Kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah:

a. mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;

b. menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan, termasuk kewajiban

pewaris maupun penagih piutang”.

Kemudian setelah semuanya terpenuhi, barulah dibagikan harta warisan itu kepada ahli waris.

Dengan rincian sebagai berikut :

Asal masalahnya : 24

1 Anak perempuan                  ½         x          24        =          12

Isteri                                             1/8       x          24        =          3

Ibu                                                 1/6       x          24        =          4

Ayah                                              ‘asobah                        =          6

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: